(KOMPAS cetak, Jumat 11 September 2009)
JAKARTA, KOMPAS -- Untuk membantu petani dalam jangka panjang, pemerintah sebaiknya memberikan dana subsidi untuk pembangunan infrastruktur pertanian.
Investasi dalam pembangunan infrastruktur pertanian akan jauh lebih bermanfaat ketimbang terus memberi subsidi dengan bersifat sementara.
Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bohor Arief Darmayanto mengungkapkan hal itu dalam diskusi bertajuk "Productivity and Competitiveness" yang digelar Strategic Asia di Jakarta, Kamis (10/9).
Dalam APBN 2009, pemerintah mengalokasikan dana Rp 16,45 triliun untuk subsidi pupuk. Namun, di tahun 2010, subsidi pupuk turun menjadi Rp 11,29 triliun.
Selama ini subisidi pupuk diberikan langsung kepada produsen pupuk dalam bentuk subsidi gas. Namun, pada masa datang pemerintah akan memberikan subsidi langsung kepada petani.
"Investasi pada sarana kebutuhan pertanian publik akan memberikan keuntungan jangka panjang kepada masyarakat daripada subsidi yang bersifat temporer," ujar Arief Daryanto.
Pembicara lain, Direktur Strategic Asia Indonesia Prabowo mengatakan, persoalan lain adalah ketimpangan antara perusahaan besar dan usaha kecil menengah.
Sementara perusahaan kelas menengah yang semestinya menjadi jembatan transformasi antara UKM dan perusahaan besar, jumlahnya relatif masih sedikit. Oleh karena itu, ujar Prabowo, tantangan saat ini adalah bagaimana menciptakan lebih banyak perusahaan kelas menengah untuk mengisi ruang kosong yang ada sehingga sektor pertanian dapat menjadi lebih produktif dan kompetitif.
Investasi Pertanian
Berdasarkan hasil penelitian di China, India, Thailand, Uganda, dan Vietnam, investasi pertanian untuk penelitian memberikan pengembalian tertinggi.
Misalnya, investasi untuk penelitian telah berhasil menaikkan nilai jual produk 12,6 dollar AS dari setiap 1 dollar AS dana yang dibelanjakan Thailand.
Demikian pula di China yang berhasil mendapat nilai tambah 9,6 dollar AS, India 13,5 dollar AS, Thailand 12,6 dollar AS, Uganda 12,6 dollar AS, dan Vietnam 12,2, dollar AS.
Negara-negara tersebut tercatat memiliki komoditas pertanian unggulan dan mengekspornya ke berbagai negara. Kondisi ini menunjukkan semakin kuat penelitian, semakin besar peluang petani menikmati nilai tambah produk pertanian.
Menurut Arief Daryanto, pemerintah harus mengambil peranan ini dengan meningkatkan investasi penelitian. Sektor lain, seperti pendidikan, listrik, telekomunikasi, jaringan jalan, dan irigasi, juga merupakan investasi yang penting untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian.
Pemerintah sebaiknya mulai berkonsentrasi mengembangkan beberapa hal ini ketimbang berpolemik soal subsidi pupuk atau harga. (HAM)